Minggu, 29 Januari 2012

KAMI YANG TURUN KE JALAN HARI INI, MERINDUKAN PEMIMPIN



Hari itu, 10 Januari 2012, jam setengah empat pagi, di kontrakan yang ditempati berdua bersama adiknya, tidak seperti biasa, Yudha bangun lebih dulu. Ia mengenakan jaket hitam kesayangannya, membawa tas dan mengisinya dengan botol minum, bergerak perlahan supaya tidak membangunkan adiknya. Sebelum pergi ia melihat dulu wajah adiknya yang masih tertidur pulas yang biasanya akan bangun satu jam kemudian. Ia sengaja tidak memberitahu hari ini akses jalan menuju pabrik adiknya akan diblokade oleh aksi Aliansi Serikat Buruh Serikat Pekerja (selanjutnya disingkat ASBSP), Kabupaten Serang. Di dalam angkot pikiran Yudha melayang tak tentu, ia menuju ke pintu tol Ciujung yang merupakan satu dari tiga titik yang akan diblokade, selain jalan masuk menuju Kawasan Modern, dan Terowongan Tambak, yang merupakan akses jalan menuju sebuah kawasan pabrik sepatu terbesar di Indonesia, PT. Nikomas, milik perusahaan Taiwan bernama Pouchen, yang memproduksi berbagai merk sepatu ternama, seperti Nike, Adidas, dan Puma. Di kawasan itulah sejak lulus SMA adiknya bekerja, menjadi saksi dari berbagai pelanggaran hak-hak buruh, menjadi saksi bagaimana pelecehan seksual merupakan hal yang biasa, menjadi saksi dari jam molor yang berlaku selama bertahun-tahun diplant Nike, yang kemudian digugat. Atas upaya tak kenal lelah dari Jim Keady salah satunya, seseorang yang namanya mungkin tak pernah didengar oleh sang adik, Nike kemudian diputuskan bersalah dan harus membayar ganti rugi sebesar 1 juta dolar kepada sekitar 4500 buruhnya di Nikomas.
Sesampainya di Ciujung, Yudha hanya bertemu dengan satu temannya yang berdiri memegang bendera biru, sedangkan yang lainnya belum datang. Mereka berdua anggota DPC Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kabupaten Serang, yang merupakan anggota paling kuat dari ASBSP yang terdiri dari enam serikat buruh lainnya: SP KEP, FSPMI, SBSI, SPSI, FK3 Mandiri Indah Kyat, dan SBB (Serikat Buruh Banten). Diantara semua perangkat aksi hari itu, Yudha adalah yang termuda, usianya belum genap 28 tahun. Tiga tahun sebelumnya ia sudah dipaksa untuk merasakan kerasnya hantaman PHK massal akibat penutupan pabrik berkedok bangkrut, padahal satu tahun kemudian pabrik pemintalan benang tenun bernama Grand Pintalan itu kembali beroperasi, setelah merekrut 90 persen buruh dengan status kontrak. Dari kondisi itu, Yudha yang sudah menjadi yatim sebelumnya, belajar banyak hal: mengalami bagaimana kerasnya hantaman PHK dengan uang pesangon hanya 70 persen dari ketentuan hukum, dan bagaimana lika-liku Serikat Pekerja dimana ia menjadi anggota, termasuk merasakan bagaimana rasanya menjadi korban dari pembelaan serikat yang setengah-setengah. Kini ia bekerja sebagai officee boy di serikatnya. Diam-diam ia menanggung kekecewaan, tapi sebagai yang termuda, sebagai yang dianggap tidak tahu apa-apa, sebagai yang hanya diperlakukan tak ubahnya pembantu: membersihkan sekretariat, membuat kopi, membeli makanan, dlsbnya, dengan gaji 250 ribu perbulan yang diberikan serikatnya, Yudha nyaris tak bisa berbuat apa-apa. Tapi sesungguhnya, ia tidak benar-benar diam, karena ia terus belajar, termasuk dari apa yang dialaminya sendiri hari ini: ia belajar tentang aksi massa, dan apa itu kepemimpinan di dalam tubuh serikat buruh.

Blokade!  
Setelah sekitar satu jam menunggu, mobil komando yang ditunggu-tunggu itu tiba. Kemudian masing-masing Korlap di tiga titik berkoordinasi, dan mulai menjalankan aksi blokade jalan secara serempak. Mobil komando dihentikan di tengah jalan, bendera-bendera berkibar, pengeras suara diaktifkan, mengaum dan membawa gegap gempita seruan untuk melakukan aksi massa. Segera jalanan di tiga titik itupun lumpuh. Ribuan buruh yang akan berangkat bekerja, baik yang menggunakan angkot atau motor diajak bergabung.



Aksi massa hari itu dilakukan untuk memprotes tindakan Bupati Serang yang hanya mengirimkan surat himbauan kepada Gubernur Banten untuk melakukan revisi Upah Minimum Kabupaten (UMK), Kabupaten Serang, dari angka sebelumnya yang menjadi ketetapan Dewan Pengupan Kabupaten (Depekab) Serang sebesar Rp. 1.320.000, menjadi Rp. 1.469.500. Aksi kali ini merupakan kelanjutan dari aksi lima hari sebelumnya, yang dilaksanakan di Kantor Bupati Serang, dimana pada waktu itu Gubernur Banten, menyatakan sepakat untuk merevisi UMK Kabupaten Serang, sesuai dengan tuntutan ASBSP, dan tinggal menunggu surat rekomendasi dari Bupati, tapi sang Bupati, hanya mengirimkan surat himbauan agar Gubernur Banten mengkaji ulang angka tersebut, bukan surat rekomendasi. Karena alasan itulah, ASBSP memutuskan untuk melakukan aksi ini.  

Masing-masing Korlap di tiga titik menghimpun massa, nyanyian-nyanyian perjuanganpun mengalir. Mata Yudha berbinar, ia menyaksikan kerumunan ribuan orang bergabung dalam aksi, dan orasi yang meledak-ledak, ia tak berhenti melantunkan nyanyian perjuangan sambil mengajak siapapun untuk terlibat dalam aksi, memberitahu mereka alasan kenapa aksi ini harus dilakukan: ia begitu lepas, begitu ceria, dan penuh dengan semangat.
Sekitar 30 ribu massa terhimpun dari tiga titik tersebut. Namun di Terowongan Tambak, yang merupakan titik pengumpulan massa terbanyak, karena dari situlah akses utama menuju kawasan Nikomas yang mempekerjakan tidak kurang dari 80ribu buruh yang 90persennya perempuan, Asep Saepullah ketua PSP SPN Nikomas, yang pada tanggal 30 Desember dipilih untuk menjadi koordinator aliansi, dan pada rapat tanggal 7 Januari tanpa rasa bersalah memutuskan untuk tidak mendukung aksi tanggal 10, dan sebaliknya justru memberikan jaminan kepada manajemen bahwa tidak akan ada satupun buruh Nikomas yang akan turun aksi, sehingga proses produksi bisa berjalan seperti biasanya, melakukan ulah. Asep marah dan menjadi beringas, melihat begitu banyak buruh Nikomas yang tidak bisa masuk kerja karena aksi blokade, tanpa segan, Asep Saepulloh bersama Lurah Tambak, yang konon seorang jawara, mendekati kerumunan massa, meminta aksi blokade dihentikan. Tapi tak ada yang menggubrisnya, perangkat aksi terus dengan gegap gempita mengajak setiap orang untuk tidak bekerja dan turun ke jalan, iapun kalap, mencekik leher salah satu Korlap disana, seorang perempuan, dan berteriak tepat diwajahnya untuk menghentikan blokade.
Massapun marah melihat itu, Lurah yang berdiri disamping Asep, yang (sekali lagi) konon seorang Jawara Banten kesohor, merinding, nyalinya ciut, ketika begitu banyak massa melihat marah ke arah mereka. Asep, koordinator ASBSP, dan ketua PSP Nikomas, serikat tingkat pabrik dengan jumlah anggota terbesar di Indonesia, nyaris menjadi bulan-bulanan massa. Beruntung salah satu Korlap berhasil melerai dan menenangkan massa, kemudian meminta Korlap lainnya untuk membuka blokade jalan, dan membiarkan buruh Nikomas memilih: melanjutkan perjalanan ke pabriknya, atau ikut ke dalam gelombang aksi yang semakin membesar.
Massa yang urung melakukan tindakan kekerasan, bersama-sama –entah siapa yang memulai- secara serentak berteriak “Ayam sayur! Ayam sayur!” kepada Asep, sang koordinator aliansi itu. Kemudian memilih untuk mengabaikan instruksi dari pimpinan mereka, dan terus bergerak menuju tol Ciujung, bergabung bersama saudara-saudara mereka, kaum senasib. Inilah pengabaian pertama massa aksi terhadap pimpinannya.
Namun, Asep yang sepanjang perjalanan dari Terowongan Tambak menuju pintu tol Ciujung tak henti diteriaki Ayam Sayur, seperti seseorang yang baru insyaf ikut ke dalam rombongan aksi. Bahkan sesampainya di Ciujung, dengan begitu percaya diri ia kemudian naik ke mobil komando, dan tanpa ragu mengatasnamakan koordinator ASBSP, melakukan orasi, menegaskan bahwa tuntutan buruh untuk merevisi UMK Kab Serang menjadi Rp. 1.469.500 adalah harga mati.

Yudha, perangkat aksi paling muda itu, tidak melihat sendiri bagaimana kejadian di Terowongan Tambak berlangsung, tapi ia mendengar dari beberapa orang lain yang melihatnya: hanya tersenyum pahit. Dari awal, walau hanya dalam hati, ia sudah kecewa dengan sikap Asep yang menyatakan tidak akan mendukung aksi tersebut. Dari awal pula, Yudha sudah mempertanyakan: kenapa massa buruh sepertinya hanya menjadi target dan objek mobilisasi? Hari ini ia melihat sendiri: begitu banyak massa aksi hanya benar-benar menjadi massa, kebanyakan dari mereka tidak mengerti kenapa mereka harus ke jalan, banyak dari mereka –walaupun pengurus serikat di pabriknya- yang baru saja tahu kalau hari ini akan dilakukan aksi massa. Tapi ia juga begitu bahagia, karena ternyata begitu banyak buruh Nikomas, yang merupakan bagian terbesar dari massa aksi, memilih untuk turun aksi walaupun blokade jalan telah dibuka.   

Pengabaian selanjutnya...
Pukul 10 pagi, seluruh massa aksi baik dari Kawasan Modern, maupun dari Terowongan Tambak berkumpul bersama dengan mereka yang sudah menunggu di pertigaan lampu merah seratus meter dari pintu tol Ciujung. Nyanyian perjuangan semakin bergema, semakin keras. Masing-masing pemimpin aliansi naik ke mobil komando, bergantian berorasi menyatakan bahwa tuntutan kenaikan UMK menjadi Rp. 1.469.500 adalah “harga mati”, termasuk Asep yang kemudian justru mendominasi mobil komando, dan terus menerus menegaskan dirinya sebagai Ketua ASBSP. 
Jam satu siang, perwakilan ASBSP memenuhi undangan, untuk melakukan negosiasi dengan Wakil Bupati, dikarenakan Bupati sedang menemui Presiden di Jakarta. Namun negosiasi itu gagal, karena Wakil Bupati mengatakan bahwa dirinya tidak menerima wewenang untuk memutuskan apapun. Itulah ulah Bupati Serang, Taufik Nuriman, ia mengirimkan orang yang tak punya wewenang untuk memutuskan apapun justru untuk melakukan negosiasi. Setengah jam kemudian, perwakilan aliansi memberitahu negosiasi telah gagal kepada setiap Korlap, yang kemudian mengumumkannya kepada massa melalui pengeras suara di mobil komando. Seketika itu juga tanpa instruksi, massa yang geram bergerak menuju pintu tol, melakukan blokade. Ketika mendengar itu, perwakilan aliansi yang berada di Kantor Bupati segera kembali, dan menginstruksikan berkali-kali agar massa menghentikan blokade, keluar dari jalan tol dan bergerak menuju Kantor Bupati. Massa aksi menolak. Inilah pengabaian kedua. Pimpinan aliansi terpaksa berkompromi, satu persatu mereka naik kembali ke mobil komando, memperbolehkan massa aksi untuk tetap berada di jalan tol, tapi harus terus bergerak menuju Kantor Bupati melalui jalan tol jalur Ciujung-Serang Timur.
Jam dua siang, di atas jalan tol yang panas, massa aksi yang menggunakan motor, maupun yang naik ke dalam lima belas angkot yang disewa mendadak oleh perangkat aksi saat itu, berdesak-desakkan mulai bergerak menuju Kantor Bupati sejauh 10 Kilometer.
Saat itu terjadilah konvoi massa aksi sepanjang 2 kilometer, sehingga massa yang berada di paling belakang tidak bisa melihat massa yang berada di paling depan, begitupun sebaliknya. Saat itu terjadi pengabaian untuk ketiga kalinya, ketika beberapa massa aksi yang menggunakan motor dan berada di belakang mobil komando, kemudian mendahului mobil komando karena merasa laju konvoi terlalu lambat. Sampai di Kilometer 65, massa aksi terpecah, beberapa diantara mereka berteriak agar konvoi dihentikan, dan melakukan pendudukan jalan tol sampai tuntutan mereka dipenuhi, aksi inipun tanpa instruksi dari mobil komando, dan inilah pengabaian selanjutnya.
Saat itu juga, Asep melalui pengeras suara di mobil komando, menyampaikan kabar bahwa seorang perempuan peserta aksi yang berasal dari Nikomas meninggal dunia, namun ia sendiri tidak mengetahui siapa namanya, dan menyebutnya sebagai Fulanah, juga tanpa memberi informasi apapun mengenai penyebab kematiannya. Ketika itu, nyanyian-nyanyian perjuangan yang berebut ruang dengan suara knalpot berhenti, situasi tiba-tiba menjadi begitu senyap dan mencekam, beberapa peserta aksi perempuan merasa ketakutan. Mereka berhenti, membacakan Al-Fatihah bersama-sama bagi Fulanah. Melalui sms dan Facebook, kabar kematian Fulanah ini bahkan menyebar jauh dari medan aksi. Herannya tak ada satupun media massa yang memberitakan aksi massa ini menulis prihal kematian Fulanah tersebut, baru keesokan harinya dapat dipastikan bahwa berita ini bohong: tak ada satupun peserta aksi yang meninggal dunia, karena diduga tergencet mobil. Entah siapa yang menyebarkan kabar ini, entah apa tujuannya, yang pasti Asep telah menyebarkan kabar itu melalui pengeras suara di atas mobil komando.
Segera setelah doa bersama, kondisi kembali bergemuruh, knalpot-knalpot motor mulai berising, dan massa yang ingin menduduki jalan tol begitu saja memisahkan diri. Berpindah ke jalur kanan, dan memblokade jalur Merak-Jakarta, tak ada yang memimpin aksi tersebut, semuanya bentuk pengabaian-pengabaian spontan dari massa aksi.
Para pimpinan aksi menginstruksikan massa yang memisahkan diri agar segera bergabung karena dikhawatirkan akan terjadi pembubaran paksa oleh Kepolisian, termasuk Asep yang mengatakan bahwa massa aksi harus segera bergabung dan menuju Kantor Bupati, karena massa aksi yang berasal dari Serang Barat (Serang Kota), sudah menunggu. Sesampainya di Kantor Bupati, baru diketahui kalau apa yang dikatakan Asep bohong, tak ada satupun massa aksi dari Serang Barat yang menunggu di Kantor Bupati, yang menunggu disana adalah ribuan Polisi anti huru-hara, yang di belakangnya berdiri tentara. Massa aksi yang memisahkan diri akhirnya berhasil diajak untuk kembali melanjutkan konvoi.
Setengah lima sore semua rombongan konvoi sampai di Kantor Bupati. Tidak lama kemudian perwakilan aliansi masuk ke dalam Kantor Bupati dan melakukan negosiasi, kali ini mereka bernegosiasi langsung dengan Bupati yang sudah tiba dari Jakarta. Jam enam sore negosiasi belum juga selesai, massa marah dan mendesak agar ada satu orang yang dikirim ke dalam dan meminta negosiasi dipercepat, dari mobil komando dipilihlah Parjan untuk melakukannya. Sepuluh menit kemudian Parjan keluar dan mengabarkan proses negosiasi akan selesai dalam sepuluh menit. Namun setelah sepuluh menit, negosiasi masih terus berlangsung. Massa benar-benar marah, mereka meminta satu orang masuk lagi, kali ini bukan untuk mempercepat proses negosiasi, tapi untuk menarik keluar perwakilan aliansi yang melakukan negosiasi.
Tidak lama setelah orang yang dipilih untuk menjemput masuk, perwakilan aliansi keluar dan membawa kabar bahwa Bupati hanya menyetujui angka revisi UMK Kab Serang tahun 2012 menjadi Rp. 1.410.000, ditambah dengan jaminan bahwa Apindo tidak akan melakukan gugatan terhadap angka tersebut. Pertimbangan yang dilakukan oleh perwakilan aliansi yang disampaikan langsung oleh Asep dalam menerima kesepakatan itu adalah agar Apindo tidak melakukan gugatan. Pihak Apindo akan melakukan gugatan jika pihak serikat buruh tetap pada angkat tuntutannya sebesar Rp. 1.469.500. Para perwakilan aliansi itu sepertinya lupa, angka yang mereka tuntut itu sendiri sebenarnya masih jauh dari kriteria upah layak, bahwa dalam Permen No. 17/2005, buruh dengan upah minimum hanya boleh membeli minyak goreng dengan kualitas curah, dan hanya boleh membeli obat nyamuk bakar, hanya 46 komponen kebutuhan yang dihitung dari seratus lebih komponen kebutuhan riil buruh sehari-hari: seakan-akan kita bisa membuang sampah dan memarkir motor dimanapun dengan gratis pada zaman sekarang ini. Mereka lupa, bahwa gugatan yang menjadi ancaman dari Apindo harusnya dihadapi.
Serempak dipimpin oleh rasa kecewa, massa aksi kemudian membubarkan diri tanpa instruksi. Ingatan mereka masih segar, di lampu merah seratus meter dari pintu tol Ciujung, masing-masing perwakilan aliansi berorasi dan menyatakan bahwa angka tuntutan merupakan ‘harga mati’ dan mereka bersedia untuk tetap melakukan demonstrasi sampai kapanpun, selama tuntutan itu belum dipenuhi.

Jam enam malam, halaman depan Kantor Bupati tiba-tiba senyap, hanya tersisa perwakilan aliansi sebanyak tujuh orang, dan beberapa Korlap. Mereka ditinggal pergi begitu saja oleh sekitar 30ribu massa aksi yang mereka pimpin. Tak ada tepuk tangan gembira, tak ada ucapan terimakasih penuh haru, tak ada gegap gempita dari mereka yang menyanyikan lagu-lagu kemenangan. Yang ada, hanya lima belas supir angkot yang menunggu bayarannya, dan masing-masing begitu kompak meminta bayaran 200 ribu rupiah perangkot, samasekali tak bisa ditawar, tak ada sedikitpun negosiasi. Seharusnya pimpinan serikat itu belajar dari supir angkot, bahwa upah layak adalah hak: ia hanya boleh dituntut, bukan untuk dinegosiasikan.

Kemudian...
Sementara Yudha, lelaki kurus itu, setelah melepas senyum bangga kepada adiknya yang ikut ke dalam gelombang aksi, sambil menahan lapar, menuju Mushola, mendirikan Sholat, kemudian berdoa kembali untuk arwah Fulanah. Walau Fulanah sebagai peserta aksi yang meninggal tak pernah ada, Tuhan mungkin saja menyampaikan doa itu kepada Marsinah.

Aksi hari itu, aksi buruh yang terbesar dalam sejarah Serang, yang telah menyebabkan pabrik-pabrik lumpuh, dan membuat seorang adik-kakak saling mengendapkan semacam kebanggaan yang sebelumnya asing, akan terus hidup dalam ingatan ribuan peserta aksi yang terus menerus merindukan pemimpin, baik dari serikat buruh maupun dari negaranya.