Rabu, 08 Februari 2012

Ambil Hati Atasan Bukan Cari Muka


Ingin naik jabatan? Pastinya hal tersebut jadi dambaan. Karier naik dan tentu demikian juga dengan gaji. Karena itu, sesekali Anda juga harus pintar-pintar mengambil “hati” atasan. Tentu, bukan dengan cara menjilat atau mencari muka.

Berikut beberapa tips yang sebagian disarikan dari buku Lead Your Boss: the Subtle Art of Managing Upyang ditulis oleh John Baldoni yang dapat Anda terapkan di kantor agar atasan “jatuh cinta”, tanpa membuat rekan kerja menganggap kita hanya cari muka.

Nikmati Pekerjaan 

Selalu tampil ceria dan antusias, walaupun beban pekerjaan yang diberikan atasan kepada Anda sangat banyak. Tunjukan sikap dan kepribadian yang positif setiap saat. Tapi, kita tetap harus tahu batas kemampuan yang dimiliki. Katakan terus terang kepada atasan bila kita tidak mampu mengerjakannya sendiri.

Bekerja maksimal

Yakinkan dan tunjukkan kepada atasan bahwa Anda bisa bekerja dengan tanggung jawab 100%. Selesaikan pekerjaan sebelum waktu deadline yang telah ditentukan, dan selalu tepat waktu.

Tunjukkan inisiatif
Selalu berinisiatif dengan memberikan pemecahan masalah dalam pekerjaan. Jangan hanya menjadi “boneka” di kantor. Inisiatif sangat dibutuhkan untuk menunjukan potensi terbesar kita kepada atasan. Tapi jangan pula sampai kebablasan. Tetaplah meminta bos untuk menentukan keputusan final, tentunya dengan masukan-masukan yang Anda berikan.

Ambil risiko
Cobalah sesekali mengajukan diri menjadi sukarelawan dalam sebuah proyek baru yang sangat menantang. Atasan akan menilai Anda sebagai orang yang berani mengambil risiko untuk maju. Tentu, lakukan dengan penuh perhitungan sehingga pekerjaan pun bisa dituntaskan dengan maksimal.

Bekerja sebagai tim
Satu hal penting yang akan disukai oleh atasan adalah bila kita bisa bekerja dengan baik sebagai tim. Bantulah rekan kerja tanpa pamrih dan jangan sungkan untuk memberikan pujian atas apa yang telah mereka capai.

Jujurlah
Katakan sejujurnya bila kita melakukan kesalahan. Atasan akan lebih menghargai seseorang yang mengakui kesalahan daripada mereka yang bersembunyi di balik hal negatif yang dilakukan, dan membiarkan orang lain atau rekan satu tim menanggungnya. Dan, jangan lupa untuk belajar dari pengalaman melakukan kesalahan tersebut.