Kamis, 16 Februari 2012

Benarkah Wanita Lebih Mudah Jadi Lesbian?

Benarkah kecenderungan kaum wanita menjadi lesbian lebih besar dibanding kaum laki-laki menyukai sesama jenisnya? 

Sebuah penelitian ilmiah yang dilakukan di Boise State University, negara bagian Idaho, AS baru-baru ini menyebutkan bahwa referensi seksual kaum wanita yang berubah menjadi biseksual atau pun menjadi lesbian prosesnya berjalan seiring dengan bergulirnya waktu. Proses pencarian jati diri yang terlalu lama ikut mendukung kondisi tersebut.

Penelitian tersebut melibatkan sekelompok perempuan heteroseksual yang 60 persen secara fisik mengatakan tertarik pada wanita. Sementara terdapat 45 persen yang pernah menjadi lesbian. Sebanyak 50 persen memiliki fantasi seks yang normal.

Profesor psikologi, Elizabeth Morgan berpendapat bahwa kedekatan hubungan antar-wanita akan memberikan peluang untuk menumbuhkan suasana romantis dan hubungan lebih intim.

"Perempuan didorong secara emosional dekat satu sama lain," kata sang profesor kepada YouBeauty.com.

Dalam kehidupan sehari-hari, kaum wanita begitu betah ngobrol hingga berjam-jam dengan teman wanitanya. Materi obrolan, mulai dari masalah bersifat pribadi hingga membicarakan soal pasangan masing-masing. Bahkan kadang antar-perempuan kerap memanggil 'sayang' satu sama lain. Elizabeth juga mengatakan, bahwa persahabatan perempuan sering hampir sulit dibedakan dari hubungan romantis.

Kini, kaum lesbi lebih terbuka. Di Taiwan, sebanyak 80 pasangan lesbian melaksanakan pernikahan dalam pernikahan lesbian terbesar di Taiwan.


Puluhan Pasangan Lesbian Menikah di Taiwan 


Taiwan kini semakin terbuka memandang hubungan sesama jenis. Sebanyak 80 pasangan lesbian melaksanakan pernikahan dalam pernikahan lesbian terbesar di Taiwan, Ahad (21/8). Penyelenggara acara ini berharap kegiatan pernikahan massal ini akan mendorong pemerintah negeri pulau itu melegalkan perkawinan sejenis.

"Saya berharap pemerintah Taiwan segera melegalkan pernikahan sesama jenis kelamin," kata salah satu peserta, Celine Chen (32 tahun), seorang penata gaya. Celine dan pasangannya berencana berbulan madu di New York setelah mereka resmi menikah. Demikian dilansir laman BBC Indonesia.

Meskipun pernikahan sesama jenis ilegal secara hukum di Taiwan, acara itu berjalan lancar tanpa adanya protes warga atau intervensi polisi. Sebagian besar pasangan, mengenakan gaun berwarna putih dan penutup wajah dalam tema pesta "Pernikahan Barbie dan Barbie" itu.

Acara yang dihelat di pusat Kota Taipei itu menarik perhatian setidaknya 1.000 pengunjung selain keluarga dan teman-teman para pasangan pengantin. Para pasangan saling berciuman, berpelukan dan berfoto bersama setelah menerima sertifikat pernikahan dari penyelenggara acara. Sertifikat itu berisi sebuah pernyataan para mempelai kini telah disatukan dalam sebuah "perkawinan suci".

Puncak acara itu adalah saat-saat para pasangan saling memasangkan cincin dan mengucapkan "Saya terima" yang diikuti tepuk tangan para hadirin. Namun, sebagian pasangan menyadari bahwa pernikahan itu sebenarnya sama sekali tidak diakui. "Pesta pernikahannya menyenangkan namun ini sama sekali tidak nyata," kata Coral Huang yang sudah hidup bersama pasangannya selama delapan tahun.