Sabtu, 18 Februari 2012

Cuti Satu Hari pun Bisa Sangat Berarti!

Kapan terakhir Anda mengambil cuti? Enam bulan lalu? Tahun lalu? Atau, malah sudah beberapa tahun silam? Jika dituruti, pekerjaan memang tidak pernah ada habisnya! Jangan kebablasan hingga bekerja tanpa henti. Ibarat mobil, sesekali perlu diservis agar tak sampai mogok di jalan. Begitu juga Anda, perlu jeda sejenak, agar lepas dari rutinitas sehari-hari. Setelah itu, siap bekerja kembali dalam kondisi segar penuh energi. 

AGAR TAK KEHABISAN ENERGI

Bagi mereka yang tergolong gila kerja, cuti sering terlupakan dalam agenda tahunan. Padahal, bila cuti diabaikan, bisa terjadi kejenuhan ataupun kehabisan energi. Yang mengkhawatirkan, bila hal itu terjadi di saat Anda seharusnya memiliki energi ekstra.

Jadi, kalau Anda sudah mulai mengalami keletihan, baik fisik maupun psikis, jangan tunda untuk mengambil cuti. Menurut Yuni Lasti Faulinda, konsultan dari Experd, cuti bertujuan memberi waktu untuk kita beristirahat dan relaksasi, sehingga dapat membangkitkan kembali gairah kerja. 

Untuk mengambil cuti tak harus menunggu musim liburan, sebab ritme kerja setiap orang berbeda-beda. Anda sendiri yang paling tahu kebutuhan Anda. Jika rutinitas sudah mulai terasa menjemukan, itu tandanya Anda mulai kelelahan, dan Anda perlu istirahat sejenak untuk mengatasinya. 

CUTI EFEKTIF DAN KREATIF
Sebenarnya, tidak ada patokan yang baku mengenai apa yang harus dilakukan saat cuti. Yang penting, bagaimana agar tujuan cuti tersebut, yaitu sebagai sarana relaksasi, dapat tercapai. 

Yang perlu diingat, apa pun yang dikerjakan saat cuti, pastikan tidak menambah stres Anda. Umumnya, cuti dimanfaatkan untuk pergi berlibur bersama keluarga. Bisa ke luar kota atau ke luar negeri. Waktu cuti juga bisa dimanfaatkan untuk membaca buku-buku guna memperluas wawasan, atau untuk menonton film. 

WAKTU TERBAIK UNTUK CUTI
Sebaiknya, jatah cuti tahunan Anda tidak dihabiskan sekaligus dalam satu waktu. Karena, Anda tidak akan tahu apakah Anda akan membutuhkan ‘time-out’ di waktu yang akan datang atau tidak. Anda cukup mengambil separuh dari total jatah cuti Anda. Misalnya, Anda memiliki jatah cuti 12 hari dalam satu tahun. Anda bisa mengambil cuti lima hari, dari Senin hingga Jumat. Sisanya, bisa disimpan untuk digunakan secara sporadis, setiap kali Anda merasa membutuhkan selingan pekerjaan. 

Anda juga dapat menciptakan long weekend Anda sendiri. Misalnya, mengambil cuti pada hari Jumat atau Senin, sehingga Anda akan mendapatkan tiga hari libur dalam seminggu, cukup dengan mengambil satu hari jatah cuti.

Lamanya masa cuti tergantung kebutuhan Anda, dan juga kegiatan yang akan dipilih. Perencanaan cuti juga penting. Paling tidak, satu bulan sebelumnya Anda sudah membuat rencana kegiatan yang akan Anda lakukan, apakah Anda memilih wisata bersama keluarga, menekuni hobi, atau yang lainnya. Jadi, saat cuti tiba, Anda tidak bingung dan tidak melewatkan waktu dengan percuma. Sesuai dengan tujuannya, setelah cuti, Anda kembali ke rutinitas pekerjaan dengan semangat kerja yang baru. 


Sumber