Sabtu, 10 Maret 2012

4 Tanda Fisik Saat Jatuh Cinta


Ada beberapa ciri-ciri yang memberitahu bahwa Anda sedang jatuh cinta, bukan sekedar terpesona, seperti dikutip Yourtango: 

1. Selalu ingin menatapnya
Dr Lucy Brown, ahli syaraf dan profesor di Albert Einstein College of Medicine mengungkap mata salah satu yang terpenting saat seseorang jatuh cinta. Ketika sedang jatuh hati, tanpa sadar Anda akan sulit untuk mengalihkan pandangan dari objek yang Anda sayangi.

Manusia secara alami akan melakukan kontak mata, dan akan melakukannya untuk kepentingan romantis. "Salah satu manifestasi jatuh cinta adalah melamun di sekitar orang tersebut dan selalu menatapnya."

2. Merasa melayang
Saat membicarakan kekasih baru Anda, seringkali Anda membicarakannya dengan penuh semangat dan tak bosan, seolah Anda baru saja minum suplemen super.

"Jatuh cinta membuat orang melayang, sama seperti euforia pada mereka yang mengonsumsi kokain," ujar Dr Brown.

Gejala fisik jatuh cinta seperti para pecandu: energi meningkat, denyut jantung dan tekanan darah naik. Bahkan beberapa orang merasa tak dapat tidur atau hanya makan sedikit.  Ini akibat otak menghasilkan dopamin dalam jumlah besar saat jatuh cinta, juga kimia norepinefrin yang mempercepat jantung ketika melihat si dia dan merasa gugup hingga berkeringat berada di sekitarnya.

3. Tak dapat menahan diri untuk selalu menyentuhnya


Tak hanya ingin melihatnya secara visual, Anda akan selalu ingin dekat pada orang yang Anda cinta. Ini menjelaskan mengapa saat menyukai seseorang Anda  kan melakukan apapun untuk sekedar bersentuhan tangan atau menyentuh rambutnya.

Dr Bianca Acevedo, Ilmuwan tamu di Universitas New York mengatakan, ketika sedang jatuh cinta, tubuh tanpa sadar akan saling bersandar satu sama lain. Ini merupakan manifestasi fisik dari otak untuk mencapai kedekatan emosional dengan orang yang dicintai.

4. Tak bisa berhenti memikirkannya 
Tingkat dopamin tinggi membuat seseorang akan berpikir tentang kekasih hingga 85 persen tiap hari, yang dikenal dengan 'pikiran intrusif'.

Menurut Dr Brown, "Pada tahap awal dari cinta romantis, kebanyakan orang selalu memikirkan orang yang mereka cintai dan menjadi obsesi. Kendati terdengar ekstrim, hal ini normal. "Jika kurang dari 40 persen, maka itu bukan cinta sebenarnya. Tingkat obsesi saat jatuh cinta sering dikaitkan dengan obsesif-kompulsif."

Pasien obsesif kompulsif diberi pengobatan dengan meningkatkan kadar serotonin mereka. Ilmuwan menemukan, penurunan serotonin di otak menimbulkan perilaku serupa saat seseorang jatuh cinta.
Sebagian pakar menyatakan jatuh cinta adalah salah satu jenis kecanduan bukan emosi. Cinta juga mengaktifkan daerah subkortikal dan kortikal otak, yang berhubungan kecanduan obat-obatan terlarang.