Rabu, 18 April 2012

Si Lajang Pantang Mengeluh Panjang


Status menikah ternyata tak selalu menjadi kabar gembira bagi keluarga dan teman. Hubungan mereka tak lagi sama karena pengantin punya prioritas bagi keluarga barunya sehingga ada yang merasa tersisihkan dan hubungan menjadi renggang.
Mereka yang sudah menikah biasanya mengubah beberapa perilaku sosialnya. Sementara biasanya sering menghabiskan waktu bersama teman-teman maupun saudara, setelah menikah intensitasnya menjadi berkurang. Atau sementara biasanya tak pernah halangan jika ada acara ke luar kota bersama, kini harus minta izin dulu kepada suami atau istri.
Pola kebiasaan yang berubah ini kadang menimbulkan masalah di antara teman-teman. Bukan hanya tingkah laku, topik pembicaraan pun sudah berbeda. Mereka yang telah menikah lebih banyak berdiskusi tentang persoalan yang berkaitan dengan rumah tangga, dari soal popok bayi sampai soal hubungan intim, yang tak jarang membuat si lajang risih.
Pengalaman Echa, misalnya, perempuan lajang 30 tahun yang mengeluh panjang setelah bertemu dengan teman-teman SMA. Tadinya Echa berharap pertemuan reuni dengan sahabat lama akan menyenangkan. Ternyata di acara tersebut ia menjadi kambing congek dalam perbincangan dengan sahabatnya dan semua sudah menikah dan punya anak. "Duh, sampai masalah ranjang dengan suami diomongin, risih deh, bikin aku bete," ucapnya kesal.
Wanita yang masih asyik meniti karier itu mengaku tak lagi merasa nyaman bersama para sahabatnya. Padahal semasa SMA mereka sangat dekat. Dengan perbedaan status, Echa merasa topik pembicaraan sudah tidak lagi nyambung. Ketika semua sahabatnya membicarakan pernik masalah pernikahan, Echa terdiam dan dalam hati mengeluh panjang.
Karena itu, Echa pun memutuskan tidak lagi sering bertemu dengan mereka. Sebagai gantinya, ia mencari teman-teman yang senasib masih jomblo. "Ya, biar kapan pun masih bisa diajak jalan dan membicarakan obrolan nyambung yang menyenangkan," ujarnya.
Achsinfina Handayani, pengamat perilaku sekaligus psikologi keluarga dan anak, menuturkan, sikap Echa merupakan tindakan kurang bijak. Dia mengatakan seorang sahabat yang baik seharusnya bisa menerima kelebihan dan kekurangan serta melewati bersama saat suka dan duka.
Achsinfina menjelaskan, sahabat tidak mudah ditemukan karena faktor utama bisa menjadi sahabat sejati bila memiliki kecocokan chemistry satu sama lain. Seorang sahabat pun mesti menjalin komunikasi dan menyesuaikan kondisi masing-masing. Memang status pernikahan pasti memberikan konsekuensi positif dan negatif bagi hubungan persahabatan. Maka diperlukan kedewasaan emosi, yakni mengerti kondisi orang lain maupun diri sendiri. "Memang tidak mudah dan butuh proses untuk bisa memiliki kedewasaan emosi."
Mereka yang masih berstatus lajang, menurut dia, perlu membentuk rasa percaya diri dan mau bersikap toleransi untuk memahami kondisi orang lain. Ketika bertemu dengan teman-temannya, tidak perlu menarik diri dari pembicaraan yang topiknya tidak dipahami. Achsinfina mengingatkan, si lajang justru harus bersikap positif menjadikan topik pembicaraan seputar masalah rumah tangga sebagai pengetahuan baru baginya. "Setidaknya, belajar dari teman-temannya bisa menjadi bekal dan modal pengetahuan kelak ia menikah." Kesenjangan dan perbedaan status ini, kata Achsinfina, sangat wajar terjadi pada si lajang dan yang telah menikah. Kondisi ini dilema yang dihadapi perempuan berusia 30 tahun ke atas, pada pria di umur 35 tahun ke atas.
Sementara itu, psikolog Annisah Kostrach mengingatkan sebaiknya si lajang tak perlu mengeluh panjang atau merasa sebagai kambing congek bila terlibat dalam pembicaraan dengan teman yang sudah menikah. "Cara yang ampuh, ya, berempati dan toleransi," ujarnya.
Dia mengatakan si lajang pun berhak melengkapi diri dengan pengetahuan bertema tersebut. Kendati hanya sebatas teori dari bacaan atau sumber lain bukan pengalaman langsung. "Justru sikap begini membuat si lajang mendapat poin lebih di mata teman yang sudah menikah."
Menurut dia, bahkan ada beberapa lajang yang sering menjadi tempat menyelesaikan solusi dan masalah pernikahan. Hal itu berdasarkan pengetahuan dan pengalaman belajar dari orang lain. "Dalam gurauan kami, psikolog pernikahan yang mahir biasanya, ya, mereka yang belum menikah," ujarnya sambil terbahak.