Kamis, 12 Juli 2012

Cerita Alumni NIKOMAS "Kecil sego thiwul, Besar jago Gambar Dan Progamer"

Setelah CNC bias aku jalankan, aku merasa apapun yang bisa orang lakukan akupun bisa melakukan juga. Tidak peduli serumit dan sesusah apapun itu. Sekarang pikiranku selalu ingin lebih. Mungkin apa yang pernah orang bijak katakan benar. Manusia tidak akan pernah bisa lebih besar dari impianya, kecuali orang yang selalu memimpikan hal-hal yang kecil. Dengan kata lain ketika orang sudah mencapai apa yang di impikan ia akan memimpikan sesuatu yang lebih besar. Mungkin pikiranku termasuk dalam kelompok tersebut, karena aku menginginkan satu hal lagi, jago gambar.Pikiranku sama sekali gak tenang setelah mengenal ruang CAD/CAM. Ruangan dimana para jago gambar dan jago programmer bercengkrama dengan computer mereka masing masing. Sekilas ruanganya sangat exclusive dan special. Perlu ijin khusus untuk masuk dan orang orang di situ terkenal punya kecerdasan selangit. Dihormati siapa saja dan di gandrungi para cewe. Wuih kayanya asik buanget kalau aku jadi salah satu penghuni ruangan tersebut. Gak peduli siapapun mereka yang pasti aku sangat ingin belajar jadi jago gambar. Bahkan aku ingin lebih hebat dari mereka.Dengan computer pendamping mesin CNC aku belajar sebisanya tentang program gambar yang di pakai teman-temanku di ruang CAD/CAM. Program itu bernama Cadkey. Fungsinya sama dengan AutoCad Cuma untuk menggambar sole sepatu atau sole sandal, Cadkey lebih cepat. Menunya praktis dan bagiku untuk menggambar apa saja jadi deh. Sayangnya di Indonesia sangat susah cari software tersebut. Buku buku paduanyapun gak ada di took buku. Cara tercepat belajar lebih cepat Cadkey ini adalah dari jago Cadkey yang terbaik. Walaupun masih kerja di CNC tapi aku selalu masuk di komunitas CAD/CAM, terutama waktu makan siang. Kita bisa ngobrol di kantin sepanjang waktu istirahat. Memang di tengah para jenius aku seperti kambing congek, tapi mana urus. Pikiranku sudah bulat, ingin bisa. Walaupun di dekat mereka aku hanya diem, tersenyum, manggut-manggut, kadang juga ngakak.Sedikit banyak ilmu mereka bisa aku download tanpa mereka tau. Tinggal saya dalami sendiri dan kembangkan sendiri. Karena pikiranku yang terus menerus di isi Cadkey, kemana-mana Cadkey, makan Cadkey, mandi Cadkey, bahkan buang air besarpun Cadkey. Dengan kemauan dan semangat yang meledak-ledak untuk bisa, Alkhamdulillah program dasarnya bisa aku kuasai nggak sampai 1 bulan, walaupun tidak belajar penuh waktu. Karena hanya sampingan sambil kerja di CNC. Setelah menguasai dasarnya tinggal menerapkanya pada kerjaan. Maju terus pantang mundur, pantang menyerah.Dengan kesungguhan dan keyakinan juga kemampuan meyakinkan manager CAD/CAM akhirnya aku bermetamorfosis lagi ke bagian CAD/CAM. Selamat tinggal untuk masin CNC ku tersayang. Uku ingin membuktikan diriku bisa. Aku ingin membuktikan anak yang besar dengan sego thiwul ini bisa jadi jago gambar juga. Memang dalam bulan pertama, pusingnya kerjaan bisa bikin gak bisa tidur berminggu-minggu. Lagi lagi mana urus, niat hati pingin bisa dan pingin jago, pasti banyak persoalan yang harus di pecahkan. Tapi dengan focus dan tetap semangat rasanya seperti menelan seekor kambing tapi nelanya per-tusuk. Enak juga kenyang. Sayangnya satu hal, jadi petentang-petenteng. Sok gaya. Tapi masih punya mimpi satu lagi jago programmer.Sedikit menyimpulkan dari sekian waktu perjalanan melintasi zona waktu, ternyata kita bisa meraih apapun yang kita kejar, apapunyang kita ingin dapatkan dan apapun yang kita cita citakan. Tapi satu syarat yang paling penting yaitu sikap pantang menyerah. Sangat tidak sedikit masalah ketika kita mau berubah. Sangat banyak batu sandungan yang bisa bikin kita menyerah, yang paling parah adalah komentar teman-teman sendiri yang begitu meragukan kita. Selain nggak ingin kita maju, mungkin mereka ingin kita seperti mereka, menemani mereka nggak pernah melangkah kemana-mana. Yang pasti dalam segala hal kita berhak memilih dengan mengesampingkan konsekwensi dari pilihan tersebut. Lanjut, Nasi thiwul pantang mundur….!


Lanjut dari cerita nasi thiwul, kini aku sudah duduk di ruangan CAD/CAM. Tiap hari bikin gambar karena sekarang sudah menjadi seorang tukang gambar walau belum jago. Enjoy banget apalagi di komputerku ada speakernya jadi bisa dengerin music sambil kerja. Mau ngopi tinggal muter kursi kebelakang karena di belakang saya ada ruang istirahat. Bisa ngopi, soft drink, atau camilan yang ada di kulkas. Komplit pokoknya. Hm… lagi lagi ingat nasi thiwul, coba kalau di kulkas ada.
Waktu bermetamorfosis ke CAD/CAM ada sebuah surat yang harus saya tandatangani. Surat itu adalah surat pernyataan bahwa saya akan di didik dan di kembangkan ilmu CAD/CAM nya di perusahaan ini dan saya bersedia bekerja di perusahaan ini terus. Perusahaan perlu mengikat saya secara tertulis karena senior-senior saya banyak yang pindah ke perusahaan lain karena gaji yang lebih tinggi. Bisa di bilang di bajak pabrik lain. Dan itu sangat sering terjadi karena untuk tenaga drafter sole saya kira belum ada sekolah di Indonesia yang memiliki lulusan (drafter sole). Didikan seperti ini hanya di dapat dari PT NIKOMAS, pabrik sepatu terkemuka yang ada di Serang Banten sana, dan seleksi untuk bisa di didikpun suangat ketat. Senior-seniorku sekarangpun semua bajakan dari sana.
Tak peduli surat apapun yang harus aku tandatanganiyang pasti aku sangat menikmati kerjaanku di sini, di PT Korin Tekhnomic Tangerang. Dengan belajar dari yang tercepat aku juga menjadi cepat, tapi dengan memodifikasi cara dan lebih mengoptimalkan cara-caranya juga aku jadi yang paling cepat dan tepat. Hm.. mungkin ini murid durhaka, menyalip kecepatan gurunya. Yang pasti senior-seniorku senang sekali aku bisa membantu mereka lebih banyak dan mereka punya waktu ngopi lebih banyak juga. Tapi yang masih sering mengganggu pikiranku adalah para Programer.
Programer satu tingkat di atas Drafter. Kalau drafter atau tukang gambar hanya bikin gambar 2 dimensi kalau programmer mewujudkan gambar dari para drafter ke bentuk 3 dimnsi. Level cerdasnya mungkin udah menenbus langit. Program yang banyak digunakan Rhinoceros, Powermill, Camand, dan Unigraphics. Entah kenapa hal serumit itu juga aku pingin kuasai. Tapi keinginan itu sangat besar, kadang aku belajar ketika jam istirahat atau pulang kerja main ke rumah temen programmer yang punya computer di rumahnya. Dengan modal sesisir pisang atau sekilo apel ia akan dengan senang hati mengajari. Dan begitu dasarnya dapat pengembanganya akan aku lakukan sendiri dengan lebih cepat.
Begitu bisa aku suka menawarkan bantuan ke programmer kalau kerjaan gambar lagi kosong. Tentu saja mereka sangat senang karena tinggal mentransfer kerjaanya ke komputerku terus mereka ngopi atau ke kantin. Setelah selesai aku serahkan kerjaan pada mereka, tinggal cek sana sini, tambahin kalau ada yang kurang, langsung program di transfer untuk menjalankan mesin CNC. Setelah mondar mandir 2D-3D ternyata saya lebih senang kerja sebagai programmer. Tantanganya lebih waw, juga gengsinya mantab, bisa tambah petentang-petenteng. Bisa cerita ke semua teman alumni STM BK nih.
Ternyata manager CAD/CAM (orang Korea) tau kalau aku juga bisa 3D. Ia juga tau kalau selama ini aku sering membantu kerjaan programmer dan hasilnya bisa dibilang bagus untuk seorang pemula. Maka aku mau di transfer lagi ke bagian 3D. tapi mandor 2D ku sayangnya gak mengijinkan. Karena dari segi tenaga 2D memang kurang orang. Maka aku gak boleh di goyang kemana-mana. Ada sebel juga denger keputusan begini. Kayaknya kurang adil, kok aku kurang sreg. Apalagi mulai ada tawaran dari perusahaan-perusahaan lain. Dan surat yang aku tandatangani itu. Ya Allah engkau Maha Tahu semua jalan keluar dari masalah ini. Dan gedubrakkk…… jalan keluar datang dari tempat yang tak di sangka-sangka. Walau sekolah nyeker, sekarang jadi programmer.