Kamis, 15 Maret 2012

Manusia Itu Cuma Persoalan Hati


“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini terdapat segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuhnya. Dan apabila segumpal darah itu buruk, maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Segumpal darah yang aku maksudkan adalah hati.” (Hadis Riwayat Al-Bukhari)”
13317724352050235983
Persoalan penegakkan hak asasi manusia itu cuma persoalan hati saja. Bagi manusia-manusia yang memiliki hati yang baik maka seluruh aktifitasnya akan berbuah dan bermuara pada kebaikan-kebaikan saja. Kebaikan yang terjadi bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun kepada orang lain.
Hati yang baik akan memanusiakan dirinya sendiri, juga memanusiakan orang lain. Bagaimana membuat hati bisa melakukan kebaikan?, yaitu dengan cara mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapakan oleh sang pemilik hati.
Persoalan hak asasi manusia samasekali tidak memerlukan butir-butir konvenan, karena bagi seseorang yang telah memiliki hati yang baik maka ia akan bisa berlaku baik terhadap sesama manusia. Kebaikan itu akan berlaku universal tanpa pandang bulu, tanpa melihat ras manusia, warna kulit, bahasa, agama, dan lain sebagainya.
Banyak pihak yang berkampanye tentang hak asasi manusia disatu sisi, tetapi disisi yang lain melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia lainnya. Sebuah pemerintahan suatu negara bisa melakukan aksi invasi kepada negara lain dengan mengatasnamakan hak asasi manusia, tetapi disaat yang sama merampas dan merampok harta benda bahkan kehormatan manusia-manusia yang berada dalam negara tersebut. Fenomena kontradiksi yang berbalut hak asasi manusia.
Banyak pihak yang ingin di mengerti soal kampanye hak asasi manusia yang diusungnya, tetapi disisi yang lain menginjak-injak keyakinan orang-orang yang ia kampanyekan. Banyak pihak yang ingin didengar suaranya tentang hak asasi manusia, namun disaat yang sama melakukan pengekangan terhadap hak bersuara manusia lainnya yang juga menjadi hak asasinya.
Hal ini mahfum terjadi karena aturan-aturan yang dibuat tentang hak asasi manusia adalah buatan manusia itu sendiri, dengan menihilkan keterlibatan Tuhan sang pencipta alam. Hal ini terjadi karena memang banyak kepentingan-kepentingan hawa nafsu sepihak dari para penyeru hak asasi manusia tersebut. Betapa rapuhnya aturan-aturan manusia untuk mengatur manusia itu sendiri sudah banyak kita saksikan dimana-mana.
Pergulatan tentang hak asasi manusia yang kita saksikan saat ini adalah soal memenangkan kepentingan pihak tertentu atas pihak-pihak lainnya. Bukan soal menjunjung hak asasi manusia seutuhnya, karena aturan-aturan yang menjadi tolok-ukur adalah aturan yang dibuat dan dijalankan oleh hawa nafsu manusia belaka.
Hak asasi manusia bisa dijunjung dengan baik apabila manusia-manusia didalamnya mau mendengar dan taat terhadap aturan-aturan-Nya.